RSS

Elakkan membazir......

Hai kawan2....arinie sayer nk menceritakan sedikit perihal berkenaan amalan membazir yang sering dilakukan oleh masyarakat kite pade mase kini terutamanya pada bulan ramadhan.....Jika kita pikirkan balik, puasa mengajar kita supaya mengawal nafsu tidak kiralah dari ape jua hal namun masyarakt kita maseh juge melakukan  tabiat ini...cube kite lihat gmbo nie....


                                  

kalo kite pikir...bole ker kite abeskan semue makanan nie sorang2....(klo ader bgtau sayer sape org tu..heheh)...sebagai umat Islam kite perlu kaji balek seperti mane yang telah dikatakan dalam ayat 26 & 27 surah Al-Isra':


Ertinya:
"Dan berikanlah kepada kerabatmu,dan orang miskin  serta musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah engkau membelanjakan hartamu dengan boros yang melampau."


Ertinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."

Jadi kita sebagai umat Islam perlulah mengambil perhatian kepada ayat-ayat ini supaya kita dapat mengelakkan diri dari melakukan tabiat boros dalam berbelanje tidak kiralah dalam perihal membeli makanan atau sebagainye....PIKIR2 kan lah yerk....




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Malam Lailatul Qadar

Surah Al-Qadr:



maksudnya: 

"sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Quran) ini pada malam Lailatul-Qadar." (Al-Qadr :1)

"Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran malam Lailatul-Qadar." (Al-Qadr :2)

"Malam Lailatul -Qadar lebih baik daripada seribu bulan." (Al-Qadr :3)

 "Pada malam itu, turun Malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana segala perkara (yang ditakdirkan berlaku pada tahun yang berikut)." (Al-Qadr :4)

"Sejahteralah malam (yang diberkat) itu hingga terbit fajar!" (Al-Qadr :5)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS



SAMA-SAMALAH KITA MENGIMARAKKAN SAMBUTAN NUZUL AL-QURAN  DAN BACALAH AL-QURAN  KERANA PADA BULAN INI KITA AKAN MENDAPAT GANJARAN YANG BERGANDA MELALUI PEMBACAAN AL-QURAN.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

 





6 SUNNAH BERPUASA

1. Mengakhirkan Sahur
Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khottobi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ
Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Karena dengan makan sahur akan semakin kuat melaksanakan puasa.”

Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab). Dari Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur.”

At Turbasyti mengatakan, “Perbedaan makan sahur kaum muslimin dengan ahlul kitab adalah Allah Ta’ala membolehkan pada umat Islam untuk makan sahur hingga shubuh, yang sebelumnya hal ini dilarang pula di awal-awal Islam. Bagi ahli kitab dan di masa awal Islam, jika telah tertidur, (ketika bangun) tidak diperkenankan lagi untuk makan sahur. Perbedaan puasa umat Islam (saat ini) yang menyelisihi ahli kitab patut disyukuri karena sungguh ini adalah suatu nikmat.”
Sahur ini hendaknya tidak ditinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ
Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.”


Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً.
Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”. Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat.” Al Qurthubi mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”
Di antara faedah mengakhirkan waktu sahur sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar yaitu akan semakin menguatkan orang yang berpuasa. Ibnu Abi Jamroh berkata, “Seandainya makan sahur diperintahkan di tengah malam, tentu akan berat karena ketika itu masih ada yang tertidur lelap, atau barangkali nantinya akan meninggalkan shalat shubuh atau malah akan begadang di malam hari.”

Bolehkah Makan Sahur Setelah Waktu Imsak (10 Menit Sebelum Adzan Shubuh)?

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz –pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi fatwa Saudi Arabia)- pernah ditanya, “Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam? “
Syaikh rahimahullah menjawab:
Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan shubuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, imsak (yaitu menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah mulai terbitnya fajar (masuknya waktu shubuh). Dasarnya firman Allah Ta’ala,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)

Juga dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ
“Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur” no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom)

Dasarnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” (HR. Bukhari no. 623 dalam Adzan, Bab “Adzan sebelum shubuh” dan Muslim no. 1092, dalam Puasa, Bab “Penjelasan bahwa mulainya berpuasa adalah mulai dari terbitnya fajar”).
Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dan beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya “Waktu shubuh telah tiba, waktu shubuh telah tiba.”

2. Menyegerakan berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Dalam hadits yang lain disebutkan,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ
Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.”

Dan inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka.
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”
3. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air. 
 
Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.


4. Berdo’a ketika berbuka

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.”

Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini,
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)


Adapun do’a berbuka,
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)

Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).
Begitu pula do’a berbuka,
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka),

Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.


5. Memberi makan pada orang yang berbuka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

6. Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - 
الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.”


Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.”
Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »
"Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya."Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, "Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lalai solat kerana pengaruh dunia

PERNAHKAH kita bersedih kerana tertinggal sembahyang, terlewat mengerjakannya atau pernahkah perasaan rugi kerana tidak sempat melakukan solat secara berjemaah?
Pernahkah kita terasa berdosa tidak ‘beradab’ menghadapi Allah? Jawapannya ada pada diri kita sendiri. Kali ini penulis ingin menyentuh soal lalai dalam solat.
Lawan lalai ialah khusyuk dan ia bukan setakat dapat menumpukan perhatian dan faham apa yang dibaca dalam sembahyang tetapi menimbulkan rasa-rasa dengan Tuhan.

Kalau tidak ada rasa-rasa yang berubah dalam sembahyang seperti gerun, hebat, cinta, takut, berharap kepada Tuhan maka itu tanda tidak khusyuk.

Lalai dalam sembahyang ada beberapa peringkat seperti berikut:

1. Lalai habis. Takbir sahaja sudah ingat perkara lain di luar sembahyang yang tidak ada kena mengena
    langsung dengan sembahyang. Ia berterusan sampai salam. Tidak ada rasa apa-apa dengan Tuhan
    sepanjang sembahyang. Malahan sedar pun tidak.

2. Dalam sembahyang. Ada masa lalai dan ada masanya ingat dan sedar bahawa dia sedang bersembahyang.
    Sembahyang diselang-seli dengan lalai dan mengingat hal-hal dunia.

3. Boleh ikut dan menyorot apa yang dia baca dalam sembahyang tetapi tidak faham akan maksud apa yang
    dibaca dan dilafazkan. Kalau hendak diukur dengan nisbah khusyuk, ini masih dianggap lalai.

Bila tidak faham, masakan boleh menghayati. Kalau tidak menghayati, masakan boleh merasa apa-apa dengan Tuhan.

4. Boleh faham segala apa yang dibuat, dibaca dan dilafazkan di dalam sembahyang. Sembahyang seperti ini
    sudah agak baik. Namun ini masih dianggap lalai mengikut kehendak dan tuntutan sembahyang kerana   
    belum ada apa-apa rasa dengan Tuhan. Khusyuk adalah rasa bukan setakat tahu atau faham.

5. Faham akan segala apa yang dibaca dan dilafazkan dalam sembahyang dan kadang-kadang ada rasa tetapi
    tidak pada sepanjang masa dan waktu di dalam sembahyang. Walaupun ini sudah baik tetapi masih ada
    lalai. Walaupun tidak membawa dunia ke dalam sembahyang tetapi rasa-rasa dengan Tuhan tidak wujud
    sepanjang waktu dalam sembahyang.

6. Sembahyang yang tidak lalai itu ialah yang sentiasa mempunyai rasa dengan Tuhan yang berubah-ubah dari
    satu rasa ke satu rasa yang lain mengikut apa yang dibaca dan apa yang dilafazkan, bermula dari takbiratul
    ihram hinggalah kepada salam. Inilah sembahyang yang tidak lalai. Inilah sembahyang yang benar-benar
    khusyuk.

Lalai berpunca daripada pengaruh dunia. Kalau dunia berada di hati amat sukar untuk mendapat khusyuk dalam sembahyang. Dunia akan terbawa dalam sembahyang.

Sebab itu kalau dalam sembahyang hanya ada rasa-rasa keduniaan seperti seronok baru berjumpa kawan, teringat polis saman kereta kita salah parking atau bimbang tak sempat pergi ke bank sebelum bank tutup dan sebagainya.

Rasa-rasa ini ialah rasa dunia yang melalaikan, bukan rasa-rasa khusyuk. Sekiranya kita tidak kenal Tuhan, hanya setakat tahu dan percaya sahaja,
kita tidak akan dapat rasa khusyuk.

Paling tinggi ketauhidan kita hanya di peringkat akal atau fikiran sahaja kerana tahu dan percaya itu perkara akal. Kita dikatakan orang yang berfikiran tauhid, bukan yang berjiwa tauhid.

Mengenal Tuhan ialah langkah pertama untuk mendapat khusyuk. Setelah mengenali Tuhan barulah kita akan dapat merasakan kehebatan dan keagungan Tuhan di hati kita kerana kenal itu perkara hati.

Barulah kita akan dapat rasa bertuhan. Selagi hati kita tidak dapat rasa bertuhan, ia tidak akan dapat rasa kehambaan dan ia tidak akan dapat rasa khusyuk.

Ada hadis berbunyi: “Awal-awal agama adalah mengenal Allah” Maksudnya, selagi kita tidak kenal Allah, agak sukar untuk kita beragama. Kita tidak akan boleh khusyuk.

Selagi kita tidak boleh khusyuk kita sebenarnya belum berjiwa Tauhid. Kalau kita belum berjiwa Tauhid kita tidak akan mampu mengamalkan dan menegakkan syariat Islam secara lahir dan batin.


Mungkin kita boleh laksanakan syariat lahir tetapi batinnya kosong. Tidak ada khusyuk, tidak ada roh dan tidak ada jiwa. Padahal Islam itu mesti ada lahir dan batinnya.

dipetik dari mymetro...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dosa racuni hati, perasaan

MENJADI nikmat paling berharga dalam kehidupan manusia apabila memiliki jiwa tenang. Jiwa tenang akan sentiasa berbahagia dalam mengharungi setiap cabaran, malah masih mampu tersenyum menghadapinya.
Jiwa tenang tidak mudah berputus asa, mengeluh dan berperasaan hasad dengki kerana semua sifat mazmumah itu boleh memusnahkan diri.

Semua cabaran kehidupan perlu dihadapi dengan sikap positif kerana perjuangan memupuk sifat terpuji akan melahirkan jiwa tenang. Dalam dunia moden ini, penyakit jiwa dikenali sebagai gangguan psikologi.

Ia memerlukan rawatan segera kerana kesannya amat buruk sekali kepada diri, keluarga, masyarakat dan negara. Alangkah manisnya jika kita memiliki jiwa yang penuh dengan ketenangan dan ketenteraman. Kegelisahan yang melanda diri seseorang menyebabkan mereka mengalami kebingungan. Ketika itu diri terasa tiada tempat lagi untuk mengadu.

Jiwa tak tenteram sebenarnya mempunyai sebab tersendiri. Antara sebab utamanya adalah melakukan dosa. Dosa adalah racun yang meracuni hati dan perasaan.

Maka kita mesti menjauhi segala kejahatan yang disebabkan daripada anggota badan. Tujuh anggota badan paling berpengaruh dalam melakukan dosa adalah mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan dan kaki sehingga ada ulama yang mengatakan, Allah menciptakan tujuh neraka itu sebagai tempat menyeksa anggota yang melakukan dosa.

Mata hendaklah digunakan bagi melihat perkara yang baik dan indah, bukan yang haram atau yang lucah. Telinga mendengar yang baik-baik, bukannya mendengar sesuatu yang mengandungi nilai maksiat dan haram seperti mendengar umpatan dan fitnah.

Perut mesti diisi dengan makanan yang halal. Sebab yang menjadikan diri tidak tenang juga berpunca daripada hati kotor. Bukan saja dengan dosa tapi juga akhlak tercela.

Rasulullah bersabda maksudnya: "Sesungguhnya malaikat tidak masuk rumah yang ada anjing." Dimaksudkan dengan malaikat ialah ketenangan yang dibawa. Rumah pula ialah hati manakala anjing adalah menggambarkan sifat dan akhlak tercela.

Jika kita mempunyai akhlak tercela, hati bertindak sebagai rumah itu pasti menjadi kotor dan ketenangan tidak akan datang menjenguk.

Malaikat rahmat tidak akan berada di tempat tinggal mereka tetapi syaitan yang akan 'menetap'.

Sifat tercela membuatkan seseorang sering menjadi risau. Hasad dengki pula membuatkan mereka tidak suka melihat orang senang, bersifat takbur, ego serta sombong.

Itulah tekanan pertama dialami syaitan ketika kejadian Adam a.s kerana bimbang Adam menandinginya. Begitu juga ujub dan riak kerana sifat demikian berpunca daripada perasaan mereka mahu dilihat sempurna sedangkan orang lain dipandang rendah.

Begitu juga sifat bakhil atau kedekut. Mereka tidak akan pernah tenang, hatinya akan terikat dengan harta, cinta harta tak salah tapi kedekut itu buat orang gundah.

Cintakan kemasyhuran dan popular langsung tiada perasaan rendah diri, hati akan gelisah. Sifat pemarah membuatkan orang menjadi pendendam. Hanya rasa takut kepada Allah saja boleh menghilangkan rasa marah itu.

Al-Quran memberi petunjuk kepada manusia bagaimana untuk merawat jiwa yang tidak tenteram. Allah s.w.t berfirman yang bermaksud: "Wahai umat manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu al-Quran yang menjadi penasihat (pengajaran) daripada Tuhan kamu dan menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin (jiwa) yang ada di dalam dada kamu serta menjadi petunjuk (hidayah) untuk keselamatan serta membawa rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Surah Yunus ayat 57).

Bahkan amalan membaca dan menghayati isi kandungan al-Quran mampu mententeramkan jiwa. Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: "Tidak berkumpul sesuatu kaum di dalam sesebuah rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kepadanya Kitab Allah (al-Quran) dan membincangkannya bersama-sama, melainkan turun ke atas mereka 'as-sakinah' (ketenangan) dan diliputi mereka dengan rahmat dan dinaungi mereka oleh malaikat dan Allah menyebut amalan mereka itu di hadapan makhluk Allah yang ada di sisi-Nya." (Riwayat Bukhari )

dipetik dari  mymetro.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

WARKAH BUAT HAMBA

"Tuhan tidak pernah melupakanmu,
Namun diri hamba yang hina ini selalu melupakanmu,
Ketahuilah, Tuhan yang Maha pemurah itu telah memberikan nikmat padamu,
dan, dalam sedar atau tidak,
Kau langsung tidak mensyukuri,
Tuhanmu datangkan sedikit ujian padamu,
Tetapi kau merungut dan meratap-meratap,
Tahukah kamu ujian itu adalah nikmat,
Untuk memberi ingatan padamu,
Bahawa DIA sentiasa memperhatikanmu,
Tidak pernah tujuanNYA untuk menyusahkan dan membebankan,
Bahkan ia adalah tanda kasih Tuhan terhadap hambaNYA...."

"Tuhanmu berada amat dekat denganmu,
Lebih dekat daripada denyutan nadimu,
Lebih dekat daripada aliran darahmu,
Bahkan lebih dekat lagi daripada nyawamu sendiri,
DIA Maha mengenali dirimu dan lebih dari apa yang kau tahu,
DIA Maha Menguasai dan Maha Memberi,
Mintalah apa saja yang kau mahu daripada-Nya ,
Dan pohonlah pertolongan dan petunjuk-NYA,
Mintalah agar kau sentiasa redha dan tenang dalam ujian-NYA,
Tuhanmu sentiasa ada dalam dirimu,
Setiap ketika dalam hidupmu....."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS